Selasa, 28 Mei 2013

Ratapan Gadis Pengemis

Aku menyusuri jalan di tengah keramaian kota.. Kendaraan berlalu lalang memenuhi jalan raya. Panasnya terik matahari serta asap kendaraan yang terus bertebaran tak dapat mematahkan semangatku tuk tetap menyusuri jalan di kota ini. Di perempatan jalan aku berhenti. Menanti kendaraan yang akan berhenti menunggu hijaunya lampu lalu lintas. Sudah bertahun-tahun aku menjalani hidup di jalanan. Kehidupan yang dianggap oleh banyak orang sebagai sesuatu yang hina. Bahkan ada yang menganggapku sampah.
Kudekati sebuah mobil yang berhenti di perempatan jalan. Kaca mobil terbuka. Terlihat oleh mataku seorang lelaki tengah baya memakai jas yang dihiasi dasi di lehernya. Dari pakaian yang ia kenakan tampaknya dia adalah orang kaya. Kudekatkan tanganku di kaca mobil. Berharap dia akan memberiku uang.
“Pak, kasihani saya! Saya dari tadi pagi belum makan. Beri saya uang pak!” pintaku pada orang tersebut.
Orang itu tak menoleh padaku. Ia seolah-olah tak mendengar perkataanku sama sekali. Kuulangi lagi perkataanku. Berharap dia segera memberiku uang.
“Pak, kasihani saya! Saya dari tadi pagi belum makan. Beri saya uang pak!” Ia akhirnya menoleh padaku. Tapi ia hanya diam saja. Tak ada senyum, tak ada ucapan, tak ada uang yang diberikan. Hanya ada tatapan mata yang tajam.
“Pak, saya belum makan!”ucapku lagi.
Tanpa basa basi ia menutup kaca mobil. Ternyata ia tak menghiraukanku. Tak lama kemudian lampu berubah warna hijau. Dengan cepat ia melaju dengan mobilnya.
Aku duduk di trotoar. Menunggu lagi kendaraan yang akan berhenti di perempatan jalan. Itulah profesiku berhari-hari. Profesi sebagai pengemis. Menanti pemberian dari tangan sang dermawan. Apakah aku salah mendapatkan uang dengan cara mengemis? Aku hanyalah seorang gadis berumur tujuh belas tahun yang hidup sebatang kara. Ayahku meninggal dunia sudah lama. Ibuku pergi meninggalkan aku sendirian di kota ini. Kini aku tak tahu ibuku ada dimana. Aku sama sekali tak pernah mengenyam bangku pendidikan. Setiap hari aku mencari makan sendiri. Ketika malam aku tidur di pinggir jalan. Tidur berselimutkan angin malam yang sangat dingin. Adakah orang yang dengan ikhlas membantu pengemis seperti aku ini? Adakah orang yang peduli dengan nasib anak-anak seperti aku ini? Apakah mereka tidak melihat bahwa masih banyak orang-orang kelaparan terkapar dimana-mana? Atau mereka hanya pura-pura tidak melihat?
Aku tak pernah habis pikir, di negeri ini banyak sekali orang-orang kaya dengan bergelimangan harta benda, rumah-rumah elite, mobil-mobil mewah, gedung-gedung pencakar langit yang semakin memadati kota, tetapi orang-orang yang menderita dan kelaparan tak kalah banyaknya. Orang-orang dengan pendidikan tinggi bertebaran dimana-mana, tetapi orang-orang yang tak pernah mencicipi pendidikan tak kalah hebatnya bertebaran di seluruh pelosok negeri. Para pemerintah dengan segala jabatan dan kekuasaannya tak mampu mengayomi rakyat-rakyatnya dengan baik. Mereka semua tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka tak peduli dengan penderitaan dan kesengsaraan orang-orang kecil. Kepandaian mereka hanya untuk mereka sendiri. Kekayaan mereka hanya untuk mereka sendiri. Kenikmatan mereka hanya untuk mereka sendiri. Dimanakah mata hati mereka? Apakah hati mereka sudah tertutup? Atau bahkan sudah mati? Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia di sekitarnya? Entahlah....aku tak mengerti. Aku hanyalah seorang gadis pengemis yang hanya bisa meratapi nasib di tengah gelapnya kehidupan.

Zen ( Zainal Fibrianto )
Yogya, 02-06-2010

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites