Aku menyusuri jalan di tengah keramaian kota.. Kendaraan berlalu lalang
memenuhi jalan raya. Panasnya terik matahari serta asap kendaraan yang
terus bertebaran tak dapat mematahkan semangatku tuk tetap menyusuri
jalan di kota ini. Di perempatan jalan aku berhenti. Menanti kendaraan
yang akan berhenti menunggu hijaunya lampu lalu lintas. Sudah
bertahun-tahun aku menjalani hidup di jalanan. Kehidupan yang dianggap
oleh banyak orang sebagai sesuatu yang hina. Bahkan ada yang
menganggapku sampah.
Kudekati sebuah mobil yang berhenti di perempatan jalan. Kaca mobil
terbuka. Terlihat oleh mataku seorang lelaki tengah baya memakai jas
yang dihiasi dasi di lehernya. Dari pakaian yang ia kenakan tampaknya
dia adalah orang kaya. Kudekatkan tanganku di kaca mobil. Berharap dia
akan memberiku uang.
“Pak, kasihani saya! Saya dari tadi pagi belum makan. Beri saya uang pak!” pintaku pada orang tersebut.
Orang itu tak menoleh padaku. Ia seolah-olah tak mendengar
perkataanku sama sekali. Kuulangi lagi perkataanku. Berharap dia segera
memberiku uang.
“Pak, kasihani saya! Saya dari tadi pagi belum makan. Beri saya uang
pak!” Ia akhirnya menoleh padaku. Tapi ia hanya diam saja. Tak ada
senyum, tak ada ucapan, tak ada uang yang diberikan. Hanya ada tatapan
mata yang tajam.
“Pak, saya belum makan!”ucapku lagi.
Tanpa basa basi ia menutup kaca mobil. Ternyata ia tak
menghiraukanku. Tak lama kemudian lampu berubah warna hijau. Dengan
cepat ia melaju dengan mobilnya.
Aku duduk di trotoar. Menunggu lagi kendaraan yang akan berhenti di
perempatan jalan. Itulah profesiku berhari-hari. Profesi sebagai
pengemis. Menanti pemberian dari tangan sang dermawan. Apakah aku salah
mendapatkan uang dengan cara mengemis? Aku hanyalah seorang gadis
berumur tujuh belas tahun yang hidup sebatang kara. Ayahku meninggal
dunia sudah lama. Ibuku pergi meninggalkan aku sendirian di kota ini.
Kini aku tak tahu ibuku ada dimana. Aku sama sekali tak pernah mengenyam
bangku pendidikan. Setiap hari aku mencari makan sendiri. Ketika malam
aku tidur di pinggir jalan. Tidur berselimutkan angin malam yang sangat
dingin. Adakah orang yang dengan ikhlas membantu pengemis seperti aku
ini? Adakah orang yang peduli dengan nasib anak-anak seperti aku ini?
Apakah mereka tidak melihat bahwa masih banyak orang-orang kelaparan
terkapar dimana-mana? Atau mereka hanya pura-pura tidak melihat?
Aku tak pernah habis pikir, di negeri ini banyak sekali orang-orang
kaya dengan bergelimangan harta benda, rumah-rumah elite, mobil-mobil
mewah, gedung-gedung pencakar langit yang semakin memadati kota, tetapi
orang-orang yang menderita dan kelaparan tak kalah banyaknya.
Orang-orang dengan pendidikan tinggi bertebaran dimana-mana, tetapi
orang-orang yang tak pernah mencicipi pendidikan tak kalah hebatnya
bertebaran di seluruh pelosok negeri. Para pemerintah dengan segala
jabatan dan kekuasaannya tak mampu mengayomi rakyat-rakyatnya dengan
baik. Mereka semua tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka
tak peduli dengan penderitaan dan kesengsaraan orang-orang kecil.
Kepandaian mereka hanya untuk mereka sendiri. Kekayaan mereka hanya
untuk mereka sendiri. Kenikmatan mereka hanya untuk mereka sendiri.
Dimanakah mata hati mereka? Apakah hati mereka sudah tertutup? Atau
bahkan sudah mati? Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang
bermanfaat bagi manusia di sekitarnya? Entahlah....aku tak mengerti. Aku
hanyalah seorang gadis pengemis yang hanya bisa meratapi nasib di
tengah gelapnya kehidupan.
Zen ( Zainal Fibrianto )
Yogya, 02-06-2010
Selasa, 28 Mei 2013
Ratapan Gadis Pengemis
Diberdayakan oleh Blogger.


0 komentar:
Posting Komentar